Postingan

Surat Keempat

(Laki-Laki Biasa Saja) Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku Menanti seorang yang biasa saja (Dee) Sumpah aku ingin laki-laki biasa saja. Demi Tuhan aku aku ingin laki-laki biasa saja. Menemaniku duduk menulis, menemaniku menghapus luka. Menemaniku menjadi diriku. Hanya aku cintamu. Dan jika malam tiba kau menjaga tidur lelapku.  Kau pernah bertanya, mengapa perempuan menginginkan kemapanan dan memasukkan kriteria kemapanan dalam mencari pasangan hidup. Itu biasa saja. Tak ada yang berlebihan, jika kemapanan dipandang dari sudut lainnya, ekonomi. Tapi aku tak tau bagaimana cara menjawab pertanyaanmu. Karena itu begitu rumit dan berbeda-beda. Setiap kemapanan butuh cara pandang masing-masing. Jika kau tanya padaku, apakah aku butuh kemapanan. Ya aku butuh kau mapan dalam memandang sesuatu. Sudah aku bilang, demi Tuhan aku ingin laki-laki biasa saja. Aku tak tau bagaimana mengungkapkan perasaanku. Tapi demi Tuhan, aku butuh keyakinan lebih. Tak tau bagaimana caran...

Surat Ketiga

Sakit. Setiap kali aku sakit, perasaan yang menghampiri adalah perasaan yang tak menentu. Beberapa tahun ini aku sering merasakan tubuhku bergejolak. Aku tak terlalu peduli terhadap tubuhku. Tubuh yang semakin ringkih ini Seringkali meronta meminta aku untuk berhenti mengistirahatkannya sejenak. Bukankah kita hanya hidup didunia satu kali. untuk itu, aku ingin apa yang mampu kulakukan akan kulakukan. Tapi ini bukan berawal dari ini saja. Kau selalu tak berhenti memintaku untuk menjaga kesehatanku. Ya, dan akan kulakukan. Kalimat itu yang selalu aku jejalkan masuk ke telinga dan pikiranku. Tapi luka kecil dulu tak pernah pudar. Bukan maksudku untuk merepotkanmu. Luka ini teramat dalam. Aku membutuhkanmu untuk menaklukkan itu terus. Aku tau, hingga saat ini kau mengagumi seluruh apa yang aku punya. Kau pernah mencium rambut pirangku dengan seksama. Mencintai kakiku yang jenjang, ataupun ruas tubuhku yang mungil. Sesekali kau memuji bentuk rahangku, yang membuat aku menjadi begitu mol...

Surat Kedua (Epilog Tak Bersuara)

Ketika aku menulis surat ini, aku sedang berada di kamar baru. Aku menamakannya Pluto. Kamar ini melukiskan kehidupan baru. Kamar ini biasa saja, dengan cat berwarna pink yang hampir pudar. Kamar ini hanya berbentuk 3x3 meter. Dan aku sudah mengembalikan beberapa barang kerumahku, karena aku rasa, kamar ini tidak akan lama menemaniku. Serta tidak akan cukup waktu untuk memberiku tempat yang nyaman, aman dan tentunya aku sukai dengan sangat. Aku sangat rindu dengan beberapa bunga di kamar lamaku. Merekalah yang selalu menjadi temanku, saat kapanpun aku merasa ada dan tidak ada. Mereka tak pernah bohong. Secuilpun kepadaku. Apapun yang aku lihat, itulah keadaan mereka sebenarnya. Ketika berbunga, maka seperti itulah perasaannya padaku. Aku seringkali membuat mereka marah padaku, jika mereka tak mendapatkan perhatian dariku. Ataupun sedikit siraman air yang mereka butuhkan. Seringkali aku berfikir bahwa aku tak mampu berkata seperti mereka, bunga di kamar lamaku. Dan aku berharap ses...

hidup adalah garam: Surat Pertama

hidup adalah garam: Surat Pertama

Surat Pertama

Lagu anyer 10 Maret mengiriku menulis di sudut kamarku. Aku sendiri menunggu seseorang datang. Sambil kelaparan aku berpikir bagaimana ini semua terjadi. Ketika aku mempercayaai seseorang aku malah menjadi semakin brutal saja. Bukan kepercayaan pada masalahnya, tapi pada cinta yang membabi buta. Kelaparan seakan pilu menembus batas yang seharusnya menjadi sesuatu yang ada. Tapi nyatanya di hari libur, aku duduk sendiri. Tanpa teman. Tanpa kekasih hati. Kadang sesuatu menjadi indah jika dibayangkan, padahal nyatanya tidak seperti yang diduga. Awalnya semua menakutkan dan itu tak mengapa. Tandanya kita sebagai manusia berfikir dan menjadi manusia yang sesuangguhnya. Ketika tulisan ini dibuat, lagu anyer 10 maret mengirinya. Tak tau ada apa. Tak ada kisah yang sangat khusus dengan lagu ini. Aku tak tau, rasanya tak asing di telinga. Saat ini sore kelam. Sunyi dan lelah. Kemarin aku menyadari bahwa kau tak ada lagi disini. Biasanya diakhir minggu seperti ini kau ada menemaniku. Tidur...

Di Tengah Kangen

Aku sakit lagi. Ini untuk ketiga kalinya aku sakit setelah sore itu di teras hatiku. Air mata tak tertumpahkan lewat mata lagi. Hati pun ikut larut. Aku sakit lagi. Kuulang lagi. Untuk ketiga kalinya. Ah…ini seperti klimaks. Jika tiga kali terjadi ini adalah tanda, bahwa dunia tak berpihak pada keinginanku, tapi pada hatiku. Aku bertanya pada Tama petang itu. “Tama adakah salahku padamu?”. Tama diam saja menanggapi pertanyaanku. Aku pikir, diam adalah tanggapan Tama yang terindah. Daripada dia bicara, tapi aku tak mengerti apa maksudnya. Petang itu, aku lewati dengan Tama. Bicara dengan mesra di tengah teras hatiku. Di temani cahaya temaran malam yang syahdu. Disekeliling kami, ada orang-orang yang kusayang memperhatikan aku yang berceloteh ria. Aku tidak pernah bercerita seceria ini. Aku pikir, menggunakan sepatu merah lebih indah daripada sepatu putih manis yang kubeli di salah satu toko elite di Palembang kemarin. Ah, waktu nalarku telah hilang. Aku ceria namun aku memikir...

GELISAH

Benar… Aku hanya butuh kau mengakui, bahwa kau pernah menduakan barat dan timur. Di awal Hari Kemerdekaan kita, kau nodai dengan berdusta. Aku gelisah, ketika kau berusaha jujur. Ini untuk menarikku kembali atau membuat aku di tengah-tengah barat dan timur lagi. Aku gelisah aku mengakui kesalahanmu. Tiba-tiba dia terdiam.. Satu tahun delapan bulan serasa tak bergeming dari tempatnya. Waktu menalarkan logika. Tak tersentuh olehnya. Awalnya pun dia tak tau. Tak menorehkan apa di hatinya. Namun, hatiku pilu di akhir hari Kemerdekaan. Ketika aku tiba-tiba datang dan menggantikan kedua kutub timur dan baratnya. Aku teriak, aku hanya ingin jadi timur. Bukan menggantikan barat. Dia tetap tak bergeming. Aku tersedan… Putih kini menjadi kuning. *** “apa yang salah dengan yang kulakukan?” “tak mengapa jika aku jatuh cinta” “apa yang salah dengan jatuh cinta?” Dia tetap tak menjawab. Dia merengkuh tanganku dengan keras. Mencabik mukaku di hadapan beberapa waktu yang bergulir...