Postingan

Surat Kesebelas

Gambar
Aku seringkali memimpikan manusia-manusia feminis disekelilingku. Manusia yang memandang bahwa kesetaraan adalah jalan hidup yang sesungguhnya. Memandang kekerasan, ketidakadilan, penindasan, hagemoni sebagai suatu hal yang tidak manusiawi. Manusia yang melakukan sesuatu hal dengan mata, hati dan tindakan. Berarti manusia yang menyadari, melihat, mengalami adanya penindasan, hagemoni, diskriminasi yang terjadi pada perempuan, mempertanyakannya, menggugat dan mengambil aksi untuk mengubah kondisi tersebut, seperti ungkapan Arimbi Heroepoetri dan Valentina mengenai definisi feminisme. Ini suatu hal yang sulit, jarang sekali terjadi. Kadang aku bingung, dimana dapat aku temukan Manusia yang melakukan itu. Sehingga aku kadang kali menghindar dengan hal-hal seperti ini. kadangkala itu menyiksaku dengan sangat. Mengumpat satu perempuan dengan perempuan lain. Mendewakan laki-laki sebagai hal yang membuat kehidupan menjadi berwarna. Aku sering lupa bahwa aku ataupun beberapa laki-laki dih...

Semenanjung Senja

Gambar
‘Langit kadang tak mau menurunkan hujan, tapi selalu ada hujan lain yang tak berasal dari langit ’ Begitulah, tanpa layak kau di dera (Dee). Tak ada yang akan kita obati bersama. Tak ada luka disini. Tak ada kehilangan disini. Suara-suara telah kita habiskan bersama. Hanya bisu yang mengantarkan kita pada semenanjung senja kala itu. Untuk sebuah rasa yang datang pada akhir. Dan juga harus pergi pada saat yang sama. Mencoba merasai bersama, tak ingin satupun menyembunyikan suara-suara senja. Ini kejujuran. Satu rasa yang berbeda. Dan kita belajar tak berdusta. Berdua tak menghabiskan rasa. Tak berdua juga begitu. Sama saja. Setitik rasa senja kala itu tiba-tiba hadir, karena kau selalu hadir dalam proses yang begitu panjang. Jika ada tempat semenanjung senja, disitulah aku pernah mencoba menunggumu pulang. Ataupun menunggu kalimat-kalimat singkatmu kala aku terbangun. Kau juga pasti begitu. Ada rasa lain, tapi itu bukan kepastian. Ada semenanjung senja bersama tapi itu tak pernah ...

Mengenai Kata ‘Maaf’

Gambar
Suatu sore, empat belas tahun silam Ketika itu aku hanya berdua saja dengan saudaraku. Aku sering kesal tingkah lakuknya yang diluar batas. Kala itu, dia menggangguku dengan menarik-narik rambutku. Dengan sekuat tenaga aku membalas memukulnya menggunakan ganggang sapu. Hingga dia menangis menjerit. Itu tak sengaja kulakukan. Dan dia hanya diam saja sambil menangis menjerit. Ingin kupeluk dia kala itu, ingin kukatakan kala itu kata ‘maaf’ yang sangat dalam dan kujeritkan bahwa aku menyesal. Tapi dia hanya mampu mengunci kamarnya dan diam kepadaku. Aku hanya kebingungan dan menyesali yang terjadi. Tak terucap kalimat maaf sedikitpun kala itu, hingga dia dewasa saat ini. Mungkin saja kala itu kami masih anak-anak. Hanyalah bocah, yang tidak akan mengingat kejadian itu. Tapi tidak denganku. Seumur hidupku, aku sering menyesali kejadian itu. Saat itulah titik ketika aku gagal menjadi seorang saudara. Ketika aku tak mampu mengatakan ‘maaf’ untuk hal yang kulakukan dengan sadar dan menyakit...

Surat Kesepuluh

Gambar
Dalam kelaparan, kita akan tau bagaimana menghargai setiap bulir keringat yang diperah untuk hidup kita. Banyak cara untuk menghargai. Manusia-manusia ceremonial adalah manusia wacana.   Kelaparan bukan hanya menusuk perut kita. Jantung serasa berhenti berdenyut. Darah tak mau lagi mengalir. Mata kadang melotot keluar. Amarah memuncak. Menjadi pencuri, menjadi perampok menjadi manusia mesin. Hingga korupsi, kolusi, nepotisme berawal dari sini. Bukan bermaksud menyederhanakan. Begitulah adanya. Dalam kelaparan yang sangat menghantui, pikiran menjadi sangat rumit. Tak tau mengadapi pola hidup yang bagaimana. Tak dapat dimengerti hidup itu seperti apa. Semua tertarik meruntuhkan bangunan kokoh kekuatan dalam hati. Hanya mereka yang mampu kuat. Hingga mampu melahirkan sebuan karya lain, dalam kelaparan. Semangat seakan bukan sebuah santapan siang yang lezat. Kelaparan hanya titik kepiluan, bukan akhir dari suatu zaman. Dan merubah pola semangat menjadi pola keanehan, bukanlah suat...

Surat untuk Kartini

Gambar
Pluto, 31 Oktober 2010 Dear Kartini, Aku hanya memandangi semua foto dengan tersenyum. Setidaknya sedikit kepuasaan dari apa yang kulakukan. Apa yang pernah kuinginkan, pernah kulakukan dan pernah kutinggalkan pada deretan jutaan pixel yang ada. Kehilangan itu sesuatu yang pasti. tapi ini bukanlah dari sebuah akhir. Ini sebuah awal yang baru. Menjadi manusia baru dan tetap menjadi sesuatu yang tak ingin ditinggalkan. Seoonggok surat-surat lahir. Kesemuanya bernafas mengenai kesetaraan. Semuanya memandang dan menginginkan kesetaraan, hingga seluruh jiwa yang ada diserahkan sepenuhnya. Ini lahir, bukan hanya dari pengalaman saja. Tapi ini lahir dari perahan-perahan keringat yang menyucur. Lahir dari pertengkaran-pertengkaran kecil yang seru. Lahir dari ejekan-ejekan atas pilihan yang lain. Hingga akhirnya memilih lagi. Saat surat-suratmu terkirim ke Julia Kristeva, aku serasa menjadi dirimu. Kembali ke abad lampau, dan membayangkan bahwa saat itu hidup lebih keras dari saat ini. tap...

Surat Kesembilan

Gambar
‘Orang berkarakter tidak akan gagal menerima segalanya’ (Dumbledore) (Seperti ungkapan Dumbledore kepada Harry Porter dalam suatu sceen di serial terakhirnya. Begitu juga dengan kita manusia. Bahwa kita punya karakter masing-masing yang akan membuat dunia lebih berguncang) Manusia mesin dalam gambaranku Akhir-akhir ini kalimat ‘manusia mesin’ seringkali bercokol dalam hidupku. Bukan hanya ketika aku menulis surat-surat ini. Istilah itu menjadi begitu familiar ketika aku duduk di sudut kayu. Aku duduk dan dia mengetukku, hingga akhirnya aku menemukan istilah itu di salah satu sudut kakinya. Tulisannya mungkin begini  ‘sedang musim manusia mesin’. Kebingungan-kebingunganku mucul ketika tulisan ini menyentil kakiku. Kalimat ‘sedang musim’ menjadi begitu menggelitik sekali. Dia menggerak-gerakkan ekornya. Lalu dia memanggilku. ‘hai, kau tak tau aku kan? Tapi kau akan menjadi seperti aku suatu kala. Suatu kala ketika kau tak mau lagi merasai.’ ‘apa maksudmu? Siapa kamu?’ aku pur...

Surat Kedelapan

Gambar
Aku ingin dikejar ketika aku berlari. Aku ingin ditanya kenapa aku pergi. Atau dipeluk ketika aku pergi. Ditanya kabar ketika aku pergi. Ini bumi milikku. Tak juga begitu. Kadang itu hanya perasaan ketika kita sedih saja. Ketika semua daya hanya dianggap sebagai pelampiasan saja. Dianggap tak berarti, apalagi bermakna. Tenang saja, itu tak harus begitu. Kita akan menangis ketika kehilangan. Bisa satu hari, satu minggu, satu bulan, bahkan satu tahun. Namun, Tuhan menciptakan satuan itu, untuk menguji kita. Setelah itu, kita akan sekuat baja. Karena bermakna benar-benar tak baik untuk kita. Kesedihan dan kebahagian hanyalah selaput dara tipis. Kadang aneh, kesakitan dimaknai sebagai kebahagiaan. Kecenderungan-kecenderungan akan tak terduga ketika hati terpaut hilang. Kelaparan, tangisan akan menjadi satu. Terasa sungguh lain dari biasanya. Air mata bukan terasa asin lagi. Karena dia kelelahan hingga terasa campa. Tulisan-tulisan indah serasa lebur. Tak berbekas. Karena hanya kata-kata...